Dampak Pembakaran Bahan Fosil Terhadap Lingkungan
Pencemaran
akibat pembakaran bahan bakar fosil umumnya terjadi karena pembakaran yang
tidak sempurna dan akibatnya adanya pengotor dalam bahan bakar tersebut. Bahan
bakar fosil mengandung senyawa hidrokarbon. Pada pembakaran sempurna senyawa
hidrokarbon akan dihasilkan karbondioksida dan uap air. Akan tetapi, jika udara
untuk pembakaran tidak mencukupi maka pembakaran akn berlangsung tidak sempurna
dan akan menghasilkan karbonmonoksida disamping karbondioksida. Jika udara
sangat kurang, maka pembakaran juga dapat menghasilkan jelaga, yaitu partikel
karbon yang tidak terbakar.
Bahan
bakar fosil, khususnya batu bara biasanya mengandung sedikit belerang dioksida.
Batu bara juga mengandung berbagai senyawa logamsebagai pengotior. Oleh karena
itu, pembakaran batu bara akan meninggalkan abu. Abu tersebut terutama
mengandung oksida-oksida logam.
Pembakaran
bensin dalam mesin kendaraan mengakibatkan pelepasan berbagai zat yang dapat
mengakibatkan pencemaran udara. Dalam bensin ditambahkan berbagai aditif untuk
menaikkan nilai oktannya. Salah satu diantaranya, yaitu TEL [Pb(C2H5)].
Pembakaran TEL akan menghasilkan timbal (II) oksida yang dapat menempel pada
silinder. Oleh karena itu, kedalam bensin bertimbal ditambahkan juga etilen
bromide, yang berfungsi sebagai scavenger. Senyawa ini akan mengubah timbal
(II) oksida menjadi timbal (II) bromida yang mudah menguap dan keluar bersama
asap kendaraan.
Beberapa
zat pencemar akibat pembakaran bensin pada kendaraan bermotor adalah sebagai
berikut.
Zat
Pencemar
|
Sumber
|
Dampak
Terhadap Lingkungan
|
CO2
|
Pembakaran bahan bakar.
|
Pemanasan global/efek rumah
kaca.
|
CO
|
Pembakaran bahan bakar yang
tidak sempurna.
|
Bersifat racun dan dapat
mengakibatkan kematian jika konsentrasi CO di udara mencapai 0,1%.
|
NOx (NO, NO2)
|
Pembakaran bahan bakar pada
suhu tinggi dimana nitrogen dalam udara ikut teroksidasi.
|
Hujam asam dan
smogfotokimia.
|
Pb
|
Penggunaan bensin yang
menggunakan aditif senyawa timbal.
|
Timbal bersifat racun.
|
Bensin
(bahan bakar) mengandung hidrokarbon C6 – C12, dalam
mesin kendaraan (silinder) campuran bahan bakar dan udara terbakar cepat oleh
bunga api listrik. Pembakaran tidak sempurna, sehingga menghasilkan gas-gas
yang terdapat dalam asap kendaraan bermotor dan dapat menimbulkan kerugian.
Gas-gas tersebut diantaranya adalah
sebagai berikut.
1. Karbon
Dioksida (CO2)
Sebenarnya karbon
dioksida tidak berbahaya bagi manusia. Akan tetapi, karbon dioksida tergolong
gas rumah kaca, sehingga peningkatan kadar CO2 di udara dapat
mengakibatkan peningkatan suhu permukaan bumi. Peningkatan suhu karena
meningkatnya kadar gas-gas rumah kaca di udara disebut pemanasan global.
Pemanasan global dapat memengaruhi iklim, mencairkan sungkup es di kutub dan
berbagai rangkaian akibat lainnya yang mungkin belum sepenuhnya dimengerti.
Gas-gas yang berperan dalam efek rumah kaca adalah sebagai berikut.
a) Karbon
dioksida (CO2)
Gas karbon dioksida
merupakan gas rumah kaca yang paling peting karena kelimpahannya di atmosfer
paling banyak.
b) Uap
air
Kelimpahannya di udara
juga cukup besar, tetapi kurang mendapatkan perhatian karena keberadaannya
tidak terkait dengan aktivitas manusia.
c) Metana
Kelimpahannya jauh lebih
sedikit dibandingkan dengan karbon dioksida dan uap air. Akan tetapi, metana
mempunyai efek rumah kaca yang lebih kuat daripada karbon dioksida
permolekulnya. Metana terbentuk sebagai hasil penguraian sisa tumbuh-tumbuhan.
2. Karbon
Monoksida (CO)
Gas karbon
monoksida tidak berwarna dan tidak berbau, oleh karena itu, kehadirannya tidak
segera diketahui. Gas CO bersifat racun, dapat menimbulkan rasa sakit pada
mata, saluran pernapasan dan paru-paru. Bila masuk dalam darah melalui
pernapasan , CO bereaksi dengan haemoglobin dalam darah membentuk COHb (karbon
dihemoglobin).

Seperti kita
ketahui, Hb ini seharusnya bereaksi dengan oksigen menjadi O2Hb
(oksihemoglobin) dan membawa oksigen yang diperlukan ke sel-sel jaringan tubuh.

Akan tetapi,
afinitas CO terhadap sekitar 300 kali lebih besar daripada O2,
bahkan Hb yang telah mengikat oksigen dapat diserang oleh CO.
Jadi, CO
menghalangi fungsi fital Hb untuk membawa oksigen bagi tubuh. Ambang batas CO
di udara sebesar 20 ppm. Udara dengan kadar CO lebih dari 100 ppn akan
menimbulkan sakit kepala dan gangguan pernapasan. Kadar yang lebih tinggi lagi
dapat mengakibatkan kematian. Salah satu cara mencegah peningkatan gas CO di
udara adalah dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan pemasangan
pengubahan katalitik (catalytic converter) pada knalpot kendaraan
bermotor.
3. Oksidasi
Belerang (SO2 dan SO3)
Belerang oksidasi,
apabila terhisap oleh pernapasan akan bereaksi dengan air dalam saluran
pernapasan, dan membentuk asam sulfit yang akan merusak jaringan dan
menimbulkan rasa sakit. Apabila SO3 yang terhisap maka yang
terbentuk adalah asam sulfat dan asam ini lebih bebahaya. Oksidasi belerang
dapat pula larut dalam air hujan dan menyebabkan apa yang yang disebut hujan
asam. Air hujan biasanya sedikit bersifat asam, dengan pH sekitar 5,7. Hal ini
terjadi karena air hujan tersebut melarutka gas CO2 yang terdapat
dalam udara, membentuk asam karbonat (H2CO3).

Air hujan dengan pH
yang lebih rendah dari 5,7 disebut hujan asam. Polutan yang menyebabkan hujan
asam adalah oksida belerang (SO2) dan SO3 dan nitrogen
dioksida (NO2). Oksida-oksida tersebut adalah larutan dalam air.
Masalah yang ditimbulkan oleh hujan asam adalah sebagai berikut.
a. Kerusakan
hutan
Hujan asam
membawa akibat buruk pada tanaman. Hujan asam membilas unsure hara penting
seperti kalsium dan magnesium. Hujan asam membuat tanah menjadi bersifat asam
dan halini tidak baik bagi tumbuhan. Pada saat yang sama, hujan asam membentuk
ion aluminium yang merupakan racun bagi tumbuhan. Banyak hutan yang mengalami
kerusakan akibat hujan asam. Belerang dioksida (SO2), dalam bentuk
gas juga dapat mematikan daun tumbuhan.
b. Kematian
biota air
Air di berbagai
sungai dan danau telah menjadi asam karena hujan asam. Ikan dan tumbuhan air
tidak dapat hidup dalam air yang bersifat asam. Ion aluminium dapat mengganggu
mekanisme insang ikan, sehingga ikan akan menjadi kekurangan oksigen. Ribuan
sungai dan danau dewasa ini tanpa kehidupan. Keasaman air sungai dan danau
tidak semata disebabkan hujan asam, tetapi juga karena mendapat air buangan
yang bersifat asam.
c. Kerusakan
bangunan
Hujan asam
berakibat buruk terhadp bahan bangunan biasa, seperti batu kapur, marmer, dan
beton. Bahan bangunan tersebut, sedikit atau banyak, mengandung kalsium
karbonat (CaCO3). Kalsium karbonat larut dalam asam. Reaksinya
dengan asam nitrat berlangsung sebagai berikut.

Cara-cara menangani hujan asam adalah sebagai berikut.
a. Menetralkan
asamnya dengan kalsium karbonat
Danau yang telah menjadi asam dapat dinetralkan dengan
suatu basa. Biasanya digunakan kalsium karbonat, suatu basa yang relatif murah.
b. Mengurangi
emisi SO2
Penyebab utama hujan
asam adalah SO2 yang berasal dari pusat pembangkit tenaga, yaitu
dari pembakaran batu bara. Batu bara mengandung sedikit 1% belerang. Idealnya,
belerang dipisahkan dari batu bara sebelum pembakaran. Akan tetapi, hal ini
sangat sukar dilakukan. Hal yang mungkin dilakukan adalah dengan menyerap
belerang dioksida sebelum memasuki cerobong asap. Untuk tujuan tersebut dapat
digunakan kalsium karbonat. Belerang dioksida bereaksi dengan kalsium karbonat
membentuk kalsium sulfit. Kalsium sulfit kemudian dapat dioksidasi lebih lanjut
membentuk kalsium sulfat. Kalsium sulfat yang dihasilkan dapat digunakan untuk
membuat plester tembok/plamir. Akan tetapi, proses ini cukup mahal dan dapat
menaikkan harga listrik sekitar 10%.
c. Mengurangi
emisi Oksida Nitrogen
Pengurangan emisi oksida
nitrogen akan mengurangi asam nitrat dalam air hujan. Selain itu karena oksida
nitrogen juga berperan sebagai katalis pada pembentukkan ozon dan asam sulfat.
Oksida nitrogen (NOx) terutama berasal dari mesin kendaraan
bermotor. Oleh karena itu, salah satu cara mengurangi emisi NOx
dilakukan dengan mengontrol pembakaran dalam mesin. Misalnya dengan mengatur
suhu mesin dan perbandingan bahan bakar terhadap udara. Emisi NOx
juga dapat dengan mengurangi kecepatan kendaraan. Persentase oksida nitrogen
dalam gas buangan kendaraan dapat berkurang dari sekitar 0,11% pada kecepatan
110 km/jam menjadi sekitar 0,03 pada kecepatan 50 km/jam. Cara lainnya adalah
dengan memasang pengubah katalitik pada knalpot kendaraan.
4. Oksida
Nitrogen (NO dan NO2)
Campuran NO dan NO3
sebagai pencemaran udara biasa ditandai dengan lambang NOx. Ambang
batas NOx di udara adalah 0,005 ppm. NOx dinudara tidak
beracun (secara langsung) pada manusia, tetapi NOx ini bereaksi
dengan bahan-bahan pencemar lain dan menimbulkan fenomena asbut (asap-kabut)
atau smog dalam bahasa Inggris. Asbut menyebabkan berkurangnya daya
pandang, iritasi pada mata dan saluran pernapasan, menjadikan tanaman layu dan
menurunnya kualitas materi.
5. Partikel
Timah Hitam
Senyawa timbel di
udara dapat mengendap pada tanaman sehingga bahan makanan terkontaminasi. Kadar
timbel dalam darah penduduk daerah perkotaan banyak yang mencapai tingkat yang
dapat menyebabkan gejala keracunan timbel. Keracunan timbel yang ringan
menyebabkan sakit kepala, mudah teriritasi, mudah lelah, dan depresi. Keracunan
yang lebih hebat menyebabkan kerusakan otak, ginjal, dan hati. Para ahli
mensinyalir bahwa penyimpangan perilaku, seperti vandalisme dan holiganisme
mungkin sebagian disebabkan karena keracunan timbel.
Langkah-langkah mengatasi dampak dari pembakaran bensin adalah sebagai
berikut.
a. Produksi
bensin yang ramah lingkungan, seperti tanpa zat aditif timbel (Pb).
b. Penggunaan
EFI (Elektronic Fuel Injection) pada system bahan bakar.
c. Penggunaan
converter katalik pada system buangan kendaraan (knalpot).
d. Penghijauan
atau pembuatan taman dalam kota.
e. Penggunaan
bahan bakar alternative yang dapat diperbarui dan yang lebih ramah. lingkungan,
seperti tenaga surya dan sel bahan bakar (fuel cell).
Sumber :
Sulistiyaningsih.
Star Platinum Buku Ajar Kimia Kelas X.
Solo: Putra Kertonatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar